DoranDev – Apakah Anda pernah mendengar istilah gaji prorate yang sering digunakan di dunia kerja? Metode penggajian ini kerap kali diterapkan dalam perusahaan yang banyak melakukan rekrutmen. Misalnya jika Anda baru bergabung di sebuah perusahaan pada pertengahan bulan, kemudian gaji pertama yang diberikan tidak penuh. Hal ini bisa terjadi karena perusahaan menerapkan sistem penggajian berdasarkan prorate atau prorata. Masih penasaran dengan gaji prorate? Mari simak ulasan berikut!
Apa Itu Gaji Prorate?

Gaji prorate adalah upah yang diterima karyawan sesuai dengan jumlah hari atau jam kerja dalam sebulan. Artinya, jumlah gaji prorata yang diterima sangat mungkin kalau lebih sedikit dari seharusnya seperti yang ada pada kontrak. Hal ini disebabkan oleh masa kerja yang memang baru sedikit, lebih sedikit dari total gaji seharusnya.
Perusahaan biasanya memberikan gaji prorata karena beberapa alasan, misalnya karyawan baru mulai bekerja di tengah bulan. Selain itu, kondisi seperti resign mendadak atau tidak mendapat cuti berbayar juga bisa jadi pertimbangan. Karena itu, penghitungan gaji dilakukan sesuai dengan durasi kerja karyawan selama periode tersebut.
Mengapa Gaji Prorate Penting?
Penerapan metode gaji prorate penting dilakukan perusahaan untuk menghindari kesalahan dalam pembayaran gaji karyawan. Jika perusahaan tidak menggunakan metode prorate, maka karyawan yang baru masuk atau keluar di tengah bulan akan mendapatkan gaji penuh atau setengah gaji meskipun mereka tidak bekerja selama itu. Hal ini berpotensi menimbulkan ketidakadilan dan ketidakpuasan antarkaryawan.
Selain itu, gaji dengan metode ini dapat menghemat biaya operasional perusahaan. Karena, perusahaan hanya perlu membayar karyawan sesuai dengan hari kerja mereka, sehingga tidak ada pemborosan anggaran. Keuntungan lainnya yang bisa diperoleh yakni meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.
Baca juga: Jangan Bingung, Begini Cara Menghitung Pemotongan Gaji Karyawan
Rumus Menghitung Gaji Prorate

Perhitungan gaji prorate melibatkan beberapa komponen yang harus dipertimbangkan. Berikut ini beberapa elemen perhitungan gaji prorata dan cara menghitungnya:
1. Menghitung Upah per Jam
Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan, rumus menghitung upah perjam dari karyawan adalah membagi upah sebulan (yang terdiri dari gaji pokok dan tunjangan tetap) dengan 173. Adapun upah per jam dapat dihitung dengan rumus berikut:
Upah per jam = 1/173 x upah sebulan
2. Menghitung Jumlah Jam Kerja
Setelah mendapatkan upah per jam, langkah selanjutnya menghitung besaran prorata. Caranya dengan menghitung jumlah jam kerja karyawan tersebut di perusahaan. Jika perusahaan menggunakan sistem 8 jam kerja sehari dan 5 hari kerja, maka waktu kerja ideal dalam sepekan adalah 40 jam. Untuk menghitung jumlah jam kerja karyawan, cara perhitungannya dapat menggunakan rumus di bawah ini.
Jumlah jam kerja = jumlah hari x jumlah jam kerja
3. Menghitung Gaji Prorate
Langkah terakhir untuk menghitung gaji prorata adalah dengan menggabungkan angka-angka yang telah diperoleh di atas. Anda perlu mengalikan upah per jam dengan total jam kerja karyawan.
Gaji prorate = jumlah jam kerja x upah per jam
Cara Menghitung Gaji Prorate
Setelah mengetahui rumus-rumus tersebut, sebenarnya menghitung gaji dengan metode ini tidak terlalu rumit. Supaya lebih jelas, berikut ini langkah-langkah yang dapat Anda lakukan:
1. Tentukan Jumlah Hari dalam Sebulan
Pertama, Anda perlu mengetahui jumlah hari dalam bulan yang sedang berlangsung. Contohnya, bulan Januari memiliki 31 hari, sedangkan bulan Februari 28 hari atau 29 hari, dan bulan April 30 hari.
2. Hitung Jumlah Hari Kerja Karyawan
Setelah itu, hitung berapa hari karyawan tersebut benar-benar bekerja selama sebulan. Termasuk hari-hari saat karyawan absen atau tidak masuk kerja. Jika seorang karyawan bekerja selama 20 hari di bulan Januari, maka itulah jumlah hari kerjanya.
3. Bagi Gaji Bulanan
Bagi gaji bulanan karyawan dengan jumlah hari kerja yang telah dihitung. Misalnya, gaji bulanannya adalah Rp5.000.000, maka gaji prorata untuk 20 hari dalam bulan Januari adalah (Rp5.000.000/31) x 20 = Rp3.870.967,74. Jadi, gaji prorata karyawan tersebut untuk bulan Januari adalah Rp3.870.967,74.
Baca juga: 7 Tips dan Cara Memilih Partner Bisnis yang Baik, Anda Wajib Tahu!
Siapa yang Berhak Mendapatkannya?

Gaji prorata akan diberikan kepada karyawan baru yang mulai bekerja di tengah periode pembayaran gaji. Misalnya, jika periode gaji adalah tanggal 1 sampai 30 setiap bulan, dan seorang karyawan mulai bekerja pada tanggal 15. Maka, ia hanya akan menerima gaji untuk periode tanggal 15 sampai 30 (setengah bulan).
Selain itu, karyawan yang mengundurkan diri atau diberhentikan di tengah periode pembayaran gaji pun berhak mendapatkan gaji prorate. Mirip dengan contoh sebelumnya, karyawan hanya akan menerima gaji untuk periode kerjanya hingga tanggal pengunduran diri atau pemberhentian.
Karyawan yang mengambil cuti tidak berbayar selama beberapa hari dalam satu periode gaji, juga akan mendapatkan gaji prorata. Gajinya akan dipotong secara proporsional sesuai dengan jumlah hari cuti tersebut.
Selanjutnya, gaji prorata akan berlaku jika ada perubahan status karyawan di tengah periode pembayaran gaji. Misalnya, seorang karyawan awalnya berstatus harian, kemudian menjadi bulanan di tengah periode gaji. Maka, perhitungan gaji bisa jadi prorata untuk masing-masing periode status.
Baca juga: Apa Itu HRBP: Peran, Tanggung Jawab, dan Skill yang Harus Dimiliki
Penutup
Nah, sekarang rasa penasaran Anda sudah terjawab, bukan? Kesimpulannya, gaji prorate diterapkan ketika seorang pekerja atau karyawan tidak bekerja penuh selama satu periode pembayaran gaji standar. Hal ini bertujuan untuk memberikan kompensasi yang adil sesuai dengan jumlah waktu atau hari kerja sebenarnya yang telah dilalui oleh pekerja tersebut.
Untuk memudahkan memonitor kehadiran karyawan Anda secara fleksibel dan real-time, gunakan Jeclock. Aplikasi absensi karyawan ini memberikan kemudahan penggunanya untuk mengatur seputar absensi, perizinan, pengajuan cuti, hingga laporan tugas harian dengan nyaman dan praktis. Proses absensi pun akan lebih efisien dan ekonomis hanya dengan menggunakan ponsel pintar tanpa mengeluarkan biaya besar.


