DoranDev – Salah satu pertanyaan paling penting dalam dunia bisnis modern adalah apa itu Supply Chain Management (SCM). Istilah ini tidak lagi sekadar jargon teknis, melainkan komponen strategis yang menentukan efisiensi dan keberlangsungan operasional perusahaan Anda. Di era persaingan global yang menuntut kecepatan dan ketepatan, memahami dan mengelola supply chain secara efektif dapat menjadi pembeda antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan stagnasi bisnis.
Apa Itu SCM?

Supply chain management (SCM) adalah proses pemantauan dan optimasi produksi serta distribusi produk dan layanan perusahaan. Ini bertujuan untuk meningkatkan dan membuat semua proses yang terlibat dalam mengubah bahan mentah dan komponen menjadi produk akhir serta mengirimkannya ke pelanggan akhir menjadi lebih efisien.
SCM yang efektif dapat membantu merampingkan aktivitas perusahaan untuk menghilangkan pemborosan, memaksimalkan nilai pelanggan, dan mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar.
Cara Kerja SCM

SCM mewakili upaya berkelanjutan oleh perusahaan untuk membuat rantai pasok mereka seefisien dan seekonomis mungkin. Umumnya, SCM berusaha untuk mengontrol atau menghubungkan secara terpusat produksi, pengiriman, dan distribusi suatu produk. Dengan mengelola rantai pasok, perusahaan dapat memangkas biaya berlebih dan langkah-langkah yang tidak perlu, serta mengirimkan produk kepada konsumen lebih cepat.
Hal ini dilakukan dengan menjaga kontrol yang lebih ketat terhadap inventaris internal, produksi internal, distribusi, penjualan, dan inventaris vendor perusahaan. SCM didasarkan pada gagasan bahwa hampir setiap produk yang masuk ke pasar berasal dari upaya berbagai organisasi yang membentuk rantai pasok. Meskipun rantai pasok telah ada selama berabad-abad, banyak perusahaan tidak memperhatikannya sebagai nilai tambah bagi operasional mereka hingga saat ini.
Baca Juga: Mengenal Metode Perpetual: Manfaat, Jenis, dan Beda dengan Periodik!
Manfaat SCM

Supply chain management (SCM) memegang peranan penting karena secara langsung membantu perusahaan mencapai berbagai tujuan bisnis. Sebagai contoh, ketika perusahaan mengendalikan proses manufaktur dengan baik, mereka dapat meningkatkan kualitas produk secara signifikan. Peningkatan kualitas ini bukan hanya mengurangi risiko recall dan tuntutan hukum, tetapi juga memperkuat citra merek di mata konsumen.
Selain itu, pengawasan terhadap prosedur pengiriman memungkinkan perusahaan meningkatkan layanan pelanggan. Mereka bisa menghindari kekurangan stok yang merugikan atau kelebihan persediaan yang mahal. Dengan kata lain, SCM memberi banyak peluang bagi perusahaan untuk memperbesar margin keuntungan mereka.
Secara keseluruhan, peran SCM menjadi semakin vital, khususnya bagi perusahaan besar dengan operasi lintas negara. Dalam konteks global dan kompetitif seperti saat ini, perusahaan yang menerapkan SCM secara efektif akan lebih siap bersaing dan berkembang.
Baca Juga: Apa itu Strategic Planning dan Bagaimana Cara Membuatnya?
Fase dalam Supply Chain Management (SCM)

Manajer supply chain tidak hanya bertugas menangani logistik dan pengadaan tradisional. Mereka harus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi, menekan biaya, menghindari kekurangan, dan mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian. Biasanya, proses SCM terdiri dari lima tahap:
1. Planning (Perencanaan)
Langkah awal SCM biasanya dimulai dengan perencanaan untuk menyesuaikan pasokan dengan permintaan pelanggan dan manufaktur. Perusahaan harus memprediksi kebutuhan masa depan mereka dan bertindak sesuai. Ini mencakup bahan baku atau komponen, kapasitas dan batasan alat produksi, serta kebutuhan tenaga kerja. Perusahaan besar umumnya menggunakan perangkat lunak enterprise resource planning (ERP) untuk membantu koordinasi proses ini.
2. Sourcing (Pengadaan)
Sumber daya manusia dan hubungan yang kuat dengan vendor sangat penting. Pengadaan mencakup kerja sama dengan vendor untuk menyediakan bahan yang dibutuhkan selama proses manufaktur. SCM sourcing yang baik memastikan:
- Bahan baku sesuai spesifikasi produksi
- Harga sesuai ekspektasi pasar
- Vendor siap mengirim dalam keadaan darurat
- Vendor memiliki rekam jejak pengiriman tepat waktu dan berkualitas
SCM sangat krusial terutama jika perusahaan bekerja dengan barang yang mudah rusak.
3. Manufacturing (Manufaktur)
Inti dari SCM adalah mengubah bahan baku menjadi produk baru. Proses ini dapat dibagi ke dalam tugas seperti perakitan, pengujian, inspeksi, dan pengemasan. Perusahaan harus memperhatikan limbah dan faktor yang menyebabkan deviasi dari rencana awal, misalnya pelatihan karyawan yang buruk.
4. Delivery (Pengiriman)
Setelah produk jadi dan terjual, perusahaan harus mengirimkannya ke pelanggan. SCM yang baik memiliki sistem logistik dan saluran distribusi yang kuat agar produk sampai tepat waktu, aman, dan dengan biaya rendah. Diversifikasi metode pengiriman juga penting untuk mengatasi gangguan, seperti badai salju di pusat distribusi.
5. Returns (Pengembalian)
Proses SCM ditutup dengan dukungan terhadap produk dan pengembalian pelanggan, atau yang dikenal dengan reverse logistics. Perusahaan harus memiliki sistem yang dapat menerima pengembalian dan memproses pengembalian dana dengan benar. Pengembalian juga merupakan sumber umpan balik yang berharga untuk meningkatkan produk.
Jenis Model Supply Chain

SCM tidak sama untuk setiap perusahaan. Setiap bisnis memiliki tujuan, kendala, dan kekuatan yang berbeda, yang membentuk model SCM mereka:
- Continuous Flow Model: Untuk manufaktur produk yang sama secara terus-menerus, cocok untuk industri yang sudah matang.
- Agile Model: Mengutamakan fleksibilitas, cocok untuk permintaan yang tidak dapat diprediksi atau produk pesanan khusus.
- Fast Model: Mengandalkan perputaran cepat untuk produk berumur pendek, mengejar tren pasar.
- Flexible Model: Cocok untuk bisnis musiman, memungkinkan peningkatan atau pengurangan produksi dengan cepat.
- Efficient Model: Untuk industri dengan margin keuntungan tipis; fokus pada efisiensi maksimal dalam penggunaan alat, manajemen inventaris, dan pemrosesan pesanan.
- Custom Model: Untuk industri spesialis seperti manufaktur otomotif yang memiliki kebutuhan teknis tinggi.
Contoh Penerapan SCM
Walgreens Boots Alliance Inc. memahami pentingnya SCM dan melakukan transformasi dengan berinvestasi pada teknologi, termasuk penggunaan big data dari 9.000 toko dan 20.000 supplier untuk meningkatkan prediksi penjualan dan manajemen inventaris. Mereka juga menjadikan SCM bagian dari inisiatif environmental, social, and governance (ESG).
Baca Juga: Mengenal Sistem Inventaris Periodik dan Kelebihannya
Penutup
Supply chain management merupakan sistem yang menghubungkan seluruh proses bisnis menjadi satu kesatuan strategis. Mengelola supply chain secara aktif bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Jika Anda ingin meningkatkan performa bisnis secara menyeluruh, memulai dengan penguatan SCM adalah langkah yang sangat strategis.
Untuk mendukung koordinasi dan efisiensi tim operasional dalam rantai pasok, Anda juga dapat mengintegrasikan penggunaan Jeclock yang merupakan Aplikasi Absensi Online untuk Karyawan. Dengan sistem absensi yang akurat dan real-time, Jeclock membantu meningkatkan disiplin kerja dan keterhubungan antar tim, yang menjadi kunci keberhasilan implementasi supply chain modern. Temukan kemudahannya di Jeclock.


