Hybrid Working vs Remote Working, Mana yang Cocok untuk Perusahaan?

Hybrid Working vs Remote Working

DoranDev – Hybrid working dan remote working menjadi dua model kerja yang semakin banyak diterapkan perusahaan saat ini. Meski sama-sama memungkinkan karyawan bekerja di luar kantor, keduanya memiliki sistem dan pola kerja yang berbeda. Lantas, apa perbedaan hybrid working vs remote working? Selengkapnya, simak pembahasannya berikut ini.

Apa Itu Hybrid Working?

Hybrid working adalah bentuk flexible working ketika karyawan menghabiskan sebagian waktu bekerja secara remote dan sebagian waktu lainnya bekerja di tempat kerja milik perusahaan. Polanya tidak harus selalu 50 persen di kantor dan 50 persen remote. CIPD menjelaskan bahwa hybrid working dapat memiliki berbagai bentuk, mulai dari dominan bekerja remote dengan sesekali datang ke kantor hingga dominan bekerja di kantor dengan beberapa hari bekerja remote.

Pengaturan hybrid juga dapat berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Sebuah perusahaan dapat menetapkan hari tertentu sebagai hari kerja di kantor, sementara perusahaan lain memberikan keleluasaan kepada tim untuk menentukan kapan mereka perlu bertemu secara langsung. Pola tersebut membuat hybrid working tidak memiliki satu format baku yang berlaku untuk semua organisasi.

Apa Itu Remote Working?

Remote working merujuk pada pengaturan kerja ketika pekerjaan dilakukan di luar kantor tradisional. SHRM mendefinisikan remote work sebagai pengaturan kerja ketika individu bekerja di luar kantor tradisional, misalnya dari rumah atau lokasi lain, dengan memanfaatkan teknologi untuk menjalankan pekerjaan serta tetap terhubung dengan manajer dan rekan kerja.

Konsep remote working sendiri perlu dibedakan dari sekadar bekerja dari rumah sesekali. ILO mendefinisikan remote work secara lebih luas sebagai situasi ketika pekerjaan dilakukan sepenuhnya atau sebagian di lokasi kerja alternatif selain tempat kerja utama. Karena itu, istilah remote work dapat mencakup beberapa bentuk pengaturan kerja di luar lokasi kerja utama.

Dalam praktik perusahaan, istilah remote working biasanya digunakan untuk menggambarkan pekerjaan yang memang dirancang agar dapat dilakukan dari luar kantor secara rutin. Lokasinya dapat berupa rumah maupun tempat lain selama perusahaan mengizinkan serta pekerjaan dapat dijalankan dengan baik.

Baca juga: AI Content vs Human Content: Mana yang Lebih Unggul di Era Digital?

Hybrid Working
sc: GPT AI Generate Image

Perbedaan Hybrid Working vs Remote Working

Hybrid working dan remote working sama sama menawarkan fleksibilitas dalam bekerja, tetapi keduanya memiliki pola kerja yang berbeda. Hybrid working menggabungkan kerja dari kantor dan lokasi lain, sedangkan remote working memungkinkan pekerjaan dilakukan sepenuhnya dari luar kantor. Agar tidak keliru, simak perbedaan hybrid working vs remote working berikut in

1. Lokasi Kerja

Perbedaan paling mudah dilihat terdapat pada keberadaan aktivitas kerja di kantor. Hybrid working menggabungkan pekerjaan dari kantor dengan pekerjaan remote. Karyawan tetap memiliki periode tertentu untuk bekerja secara langsung bersama rekan kerja di kantor, meskipun frekuensinya dapat berbeda-beda.

Remote working memiliki pola yang lebih terpusat pada pekerjaan di luar kantor. Karyawan tidak harus menjalankan rutinitas datang ke kantor sebagai bagian dari pola kerja normalnya. SHRM juga memasukkan rumah maupun lokasi lain di luar kantor sebagai contoh tempat kerja remote.

Contoh sederhananya dapat dilihat dari jadwal kerja. Karyawan dengan pola hybrid mungkin bekerja di kantor pada Senin, Rabu, dan Kamis, kemudian bekerja dari rumah pada Selasa dan Jumat. Karyawan remote dapat menjalankan seluruh hari kerjanya dari rumah maupun lokasi lain yang diperbolehkan perusahaan.

2. Fleksibilitas

Hybrid working memberikan fleksibilitas lokasi, tetapi tingkat fleksibilitasnya sangat bergantung pada kebijakan perusahaan. Perusahaan dapat menentukan jumlah hari kerja di kantor, hari tertentu untuk kolaborasi, maupun aturan mengenai kapan karyawan harus hadir secara langsung.

Model tersebut tetap memberikan fleksibilitas dibandingkan dengan sistem kerja yang sepenuhnya berbasis kantor. Remote working pada umumnya menawarkan fleksibilitas lokasi yang lebih besar karena pekerjaan tidak bergantung pada kehadiran rutin di kantor.  Meski demikian, remote working bukan berarti karyawan bebas bekerja kapan saja tanpa aturan.

Jam kerja, meeting, target, komunikasi, keamanan data, serta ketentuan perusahaan tetap dapat berlaku. CIPD sendiri menempatkan remote working dan hybrid working sebagai bagian dari flexible working. Flexible working mencakup fleksibilitas mengenai tempat, waktu, maupun jam kerja, sehingga fleksibilitas lokasi tidak otomatis berarti fleksibilitas waktu.

5. Interaksi dan Kolaborasi

Hybrid working masih menyediakan kesempatan untuk melakukan interaksi langsung. Pertemuan tatap muka dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang membutuhkan diskusi intensif, brainstorming, koordinasi tim, maupun aktivitas yang lebih efektif dilakukan secara langsung. Pola tersebut dapat menjadi salah satu alasan perusahaan mempertahankan kehadiran fisik meskipun sebagian pekerjaan sudah dapat dilakukan secara remote.

Remote working lebih banyak mengandalkan komunikasi digital. Meeting, chat, email, project management tools, serta berbagai platform kolaborasi menjadi bagian penting dalam menjaga koordinasi antarkaryawan. Kebutuhan tersebut membuat perusahaan perlu memastikan bahwa karyawan memiliki akses terhadap informasi serta teknologi yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif.

CIPD menyarankan perusahaan yang menerapkan flexible maupun hybrid working untuk berinvestasi pada teknologi yang sesuai serta memberikan dukungan dan pelatihan kepada manajer. Fokus pengelolaan juga disarankan bergeser dari sekadar melihat kehadiran fisik menuju hasil pekerjaan.

Baca juga: CRM vs Chat Automation, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Cocok untuk Bisnis?

Remote Working
sc: GPT AI Generate Image

Kelebihan Hybrid Working dan Remote Working

Baik hybrid working maupun remote working menawarkan fleksibilitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan karyawan dan perusahaan. Meski begitu, manfaat yang diberikan keduanya cukup berbeda, terutama dari sisi fleksibilitas lokasi, kolaborasi, hingga akses terhadap talenta.

Kelebihan Hybrid Working:

  • Lebih fleksibel: Karyawan dapat bekerja dari kantor maupun lokasi lain sesuai jadwal yang telah ditentukan.
  • Tetap mendukung kolaborasi: Pertemuan langsung tetap bisa dilakukan ketika pekerjaan membutuhkan diskusi atau koordinasi secara tatap muka.
  • Menjaga fungsi kantor: Perusahaan tetap memiliki ruang untuk kolaborasi tanpa mengharuskan karyawan hadir setiap hari.
  • Dapat disesuaikan dengan pekerjaan: Tim yang membutuhkan banyak kolaborasi dapat memiliki lebih banyak jadwal di kantor, sedangkan pekerjaan yang lebih mandiri bisa dilakukan secara remote.

Kelebihan Remote Working:

  • Fleksibilitas lokasi lebih besar: Karyawan dapat bekerja dari lokasi yang sesuai selama memiliki fasilitas dan koneksi yang mendukung.
  • Menghemat waktu perjalanan: Karyawan tidak perlu melakukan perjalanan rutin ke kantor sehingga waktu tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan lain.
  • Akses talenta lebih luas: Perusahaan dapat merekrut kandidat dari berbagai wilayah tanpa terlalu dibatasi jarak dengan kantor.
  • Mendukung work-life balance: Fleksibilitas lokasi dapat membantu karyawan mengatur pekerjaan dan kehidupan pribadi dengan lebih leluasa.

Kekurangan Hybrid Working dan Remote Working

Meski menawarkan fleksibilitas, hybrid working dan remote working juga memiliki beberapa tantangan yang perlu diperhatikan perusahaan. Perbedaan lokasi kerja dapat memengaruhi komunikasi, koordinasi, hingga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi jika tidak diatur dengan baik.

Kekurangan Hybrid Working:

  • Koordinasi lebih menantang: Perbedaan jadwal kehadiran dapat membuat anggota tim bekerja dari lokasi yang berbeda sehingga berisiko menimbulkan kesenjangan informasi.
  • Risiko ketimpangan informasi: Karyawan yang lebih sering bekerja remote dapat tertinggal dari percakapan informal atau keputusan yang berlangsung di kantor.
  • Membutuhkan manajemen yang jelas: Perusahaan perlu menetapkan target, indikator kinerja, pembagian tanggung jawab, serta sistem komunikasi yang terstruktur.
  • Perlu menjaga kesetaraan: Pola kerja perlu dirancang agar karyawan yang bekerja dari kantor maupun remote tetap mendapatkan kesempatan dan akses informasi yang setara.

Kekurangan Remote Working:

  • Komunikasi lebih kompleks: Minimnya interaksi tatap muka dapat membuat proses kolaborasi dan koordinasi antartim menjadi lebih menantang.
  • Batas kerja dan kehidupan pribadi bisa kabur: Fleksibilitas bekerja dari rumah dapat membuat karyawan lebih sulit memisahkan waktu kerja dengan waktu pribadi sehingga berisiko menyebabkan overworking dan burnout.
  • Membutuhkan dukungan teknologi: Karyawan memerlukan koneksi internet, perangkat kerja, akses sistem perusahaan, serta platform komunikasi yang dapat diandalkan.
  • Keamanan informasi perlu diperhatikan: Pekerjaan yang dilakukan dari berbagai lokasi membutuhkan sistem keamanan yang memadai untuk melindungi data dan informasi perusahaan.

Baca juga: Google Profil Bisnis vs Media Sosial, Mana yang Lebih Penting untuk Bisnis?

Penutup

Pada akhirnya, hybrid working dan remote working sama-sama dapat menjadi pilihan untuk mendukung fleksibilitas kerja, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan karakter pekerjaan. Sistem komunikasi, pengelolaan tim, teknologi, serta pembagian tanggung jawab yang jelas menjadi hal penting agar pola kerja tetap berjalan efektif.

Jika perusahaan Anda membutuhkan solusi digital untuk mendukung pengelolaan pekerjaan dan komunikasi tim, DoranDev menyediakan berbagai solusi bisnis yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Hubungi DoranDev via WhatsApp sekarang dan temukan solusi digital yang tepat untuk mendukung operasional bisnis Anda.